← Back

Data Operations

Kumpulan pengalaman nyata di bidang Data Operations — menjaga pipeline tetap berjalan, membangun sistem monitoring & alerting, serta memastikan kualitas data yang reliable di lingkungan produksi skala besar.

📌 Catatan: Semua gambar pada halaman ini hanya ilustrasi — bukan tangkapan layar dari dashboard atau arsitektur nyata. Semoga masih mewakili apa yang sudah saya buat.

Use Cases

Zero-Downtime Pipeline Operations & SLA Management

Di sebuah platform agritech, saya mengelola infrastruktur pipeline data produksi yang melayani 50+ proses bisnis dan tim BI downstream dengan komitmen SLA. Tantangannya: tidak ada monitoring terpusat, kegagalan pipeline sering baru diketahui setelah dampak ke bisnis terjadi.

📊 Impact

  • SLA pipeline critical terjaga di atas 90%
  • MTTR (Mean Time to Recovery) berkurang dari hitungan jam menjadi menit
  • Tim downstream BI mendapat notifikasi sebelum dashboard menampilkan data stale
  • Fondasi operasional matang untuk praktik DataOps ke depan
  • Pengurangan signifikan dalam insiden data yang dilaporkan oleh pengguna bisnis

🧩 Tech Stack

Apache Airflow, BigQuery, Fivetran, Slack API, Python, Advanced SQL Monitoring Queries

⚡ Problem Statement

  • Ratusan pipeline produksi (Airflow + Fivetran + BigQuery) tanpa monitoring terpusat
  • Tidak ada alerting saat job gagal secara diam-diam (silent failure)
  • Dampak ke dashboard downstream baru ketahuan setelah tim bisnis melaporkan
  • Tidak ada proses incident response yang jelas — recovery lambat dan tidak terdokumentasi
  • Kegagalan pipeline menyebabkan data gap yang sulit dideteksi dan dipulihkan

🧠 Solution Overview

  • Membangun monitoring dashboard menggunakan BigQuery INFORMATION_SCHEMA + Airflow REST API
  • Konfigurasi Slack alerting untuk kegagalan job, job berjalan terlalu lama, dan pelanggaran SLA
  • Menetapkan runbook & proses incident response bertingkat (P0: business-critical, P1: BI downstream, P2: batch)
  • Membuat prioritas tier pipeline (critical vs non-critical) untuk penugasan SLA yang tepat
  • Dokumentasi root cause pattern umum + prosedur recovery per tipe pipeline

🏗️ Architecture

  1. Monitoring Layer: query Airflow REST API + BigQuery INFORMATION_SCHEMA untuk status pipeline real-time
  2. Alerting Layer: Slack webhooks untuk kegagalan, SLA breach, dan data freshness threshold
  3. Incident Response: sistem prioritas bertingkat P0/P1/P2 dengan escalation path yang jelas
  4. Runbook: dokumentasi pola root cause umum + prosedur recovery per tipe pipeline
  5. Reporting: laporan mingguan pipeline health untuk visibility ke engineering lead

🔥 Challenges & Solutions

  • Silent failure sulit dideteksi tanpa monitoring aktif — diatasi dengan query freshness monitoring per tabel
  • False positive alert yang membuat tim tidak responsif — disetel threshold alert per karakteristik pipeline
  • Menyeimbangkan fire-fighting operasional dengan perbaikan proaktif — diatasi dengan prioritas SLA yang jelas

Data Quality Framework & Automated Reconciliation Pipeline

Membangun framework monitoring kualitas data proaktif yang secara otomatis mendeteksi anomali, data stale, dan kegagalan rekonsiliasi antara sistem sumber dan data warehouse — mengubah pendekatan reaktif menjadi observabilitas terstruktur berbasis data.

📊 Impact

  • Penurunan 70%+ insiden kualitas data yang dilaporkan oleh pengguna bisnis
  • Rekonsiliasi row count berhasil menangkap 3 bug pipeline besar sebelum berdampak ke bisnis
  • Monitoring freshness memastikan data dashboard tidak pernah melebihi threshold SLA
  • Coverage DQ mencapai 100% tabel bisnis kritis dalam 2 sprint
  • Visibilitas kualitas data mingguan melalui scorecard untuk review bersama stakeholder

🧩 Tech Stack

Python, BigQuery, Apache Airflow, Advanced SQL, Slack API, Google Data Studio, dbt (validation layer)

⚡ Problem Statement

  • Masalah kualitas data ditemukan oleh pengguna bisnis akhir — terlambat untuk diperbaiki tanpa dampak
  • Tidak ada validasi row count antara sumber dan warehouse
  • Tidak ada deteksi nilai outlier atau penurunan metrik secara tiba-tiba
  • SLA pipeline tidak terlacak — kegagalan baru diketahui keesokan harinya
  • Tidak ada standar definisi kualitas data yang disepakati lintas tim

🧠 Solution Overview

  • Automated DQ checks: rekonsiliasi row count, analisis null rate, boundary check min/max per tabel
  • Freshness monitoring: pengecekan timestamp last-updated per tabel/pipeline berbasis threshold SLA
  • Integrasi alerting: notifikasi Slack dengan metadata yang actionable (tabel, jumlah baris, delta, threshold)
  • Data quality scorecard untuk review mingguan bersama stakeholder bisnis
  • Schema drift detection untuk menangani perubahan schema yang merusak check yang sudah ada

🏗️ Architecture

  1. DQ Check Layer: script Python yang berjalan pasca-load untuk validasi per tabel (null, range, count)
  2. Reconciliation Layer: perbandingan source count vs BigQuery count dengan toleransi threshold yang disesuaikan
  3. Freshness Monitor: pengecekan timestamp last-updated per tabel dengan threshold berbasis SLA
  4. Alerting: Slack webhook dengan ringkasan kontekstual (nama tabel, delta, severity, langkah recovery)
  5. Reporting: scorecard kualitas data mingguan menggunakan BigQuery views + Google Data Studio

🔥 Challenges & Solutions

  • Mendefinisikan threshold toleransi yang tepat per tabel tanpa false positive — diselesaikan dengan profiling data historis
  • Menangani schema drift yang merusak check yang ada — ditambahkan schema drift detection sebagai layer terpisah
  • Memprioritaskan tabel/pipeline mana yang dicakup lebih dulu — dibuat tier berdasarkan dampak bisnis
Untuk kembali ke profil, klik di sini.